Rabu, 09 Januari 2013

ANTROPOLOGI BUDAYA


Antropologi Budaya
                                                         A. Pendahuluan
Antropologi kebudayaan atau lebih sering kita dengar sebagai antropologi budaya (terjemahan dari Cultural Anthropogy), merupakan salah satu cabang dari studi antropologi yang mengambil kebudayaan sebagai objek studinya. Ilmu Antropologi, tidak seperti beberapa ilmu lain (misalnya, geografi) mempunyai kejelasan posisi dalam dikotomi bidang-bidang ilmu pengetahuan, apakah termasuk bidang eksakta atau noneksata, ilmu pengetahuan alam atau sosial. Ilmu Antropologi adalah salah satu ilmu yang termasuk ke dalam kategori ilmu sosial.
Secara garis besar ilmu antroplogi dapat dipilah menjadi dua bahagian, yaitu antropologi biologi dan antropologi budaya. Antropologi biologi merupakan kelompok studi antropologi yang mempelajari manusia beserta proses biologis yang menyertainya sehingga terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya. Ilmu ini meliputi ilmu paleoantropologi dan antropologi fisik. Ilmu pengetahuan penunjang dalam antropologi biologi meliputi kedokteran, arkeologi, biologi, dan sebagainya. Antropologi budaya merupakan studi antropologi yang bidang studinya mengambil kebudayaan sebagai objeknya. Aspek-aspeknya antara lain meliputi masalah sejarah asal, perkembangan, dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di seluruh dunia; masalah perkembangan, penyebaran dan terjadinya aneka warna kebudayaan di seluruh dunia; dan masalah azas-azas dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi (Koentjaraningrat, 1990: 25). Sesuai dengan aspek-aspek yang dipelajari terdapat cabang antropologi budaya, yaitu prehistori, etnolinguistik, etnologi (Descriptive integration/etnology dan generalizing aproach/social anthropology), etnopsikologi, antropologi spesialisasi (antropologi ekonomi, antropologi politik, antropologi kependudukan, antropologi kesehatan, antropologi kesehatan jiwa, antropologi pendidikan, antropologi perkotaan dan antropologi perdesaan), dan antropologi terapan. Selain itu ada pula dua aspek lain yang menjadi kajian ilmu antropologi, selain kajian antroplogi budaya, yaitu masalah sejarah asal dan perkembangan manusia (atau evolusinya) secara biologi (termasuk dalam studi paleoantropologi); dan masalah sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya (antropologi fisik). Kedua aspek ini dicakup dalam studi Antropologi Fisik dalam arti luas.
Saat ini, ilmu antropologi budaya mempunyai peranan penting dalam pembangunan bangsa di Indonesia dan telah cukup mendapat perhatian oleh pemerintah. Hal ini tampak dengan adanya pengembangan ilmu ini di beberapa universitas negeri, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Cendrawasih.

B. Konsep Antropologi
B.1. Batasan Antropologi
Batasan, yang lebih sering disebut dengan definisi dapat dipandang sebagai kristal dari lingkup bidang studi yang menyangkut isi yang dipelajari dari bidang ilmu pengetahuan bersangkutan (Suhardjo, 1998: 2). Sebelum sampai pada batasan kiranya perlu dipahami terlebih dahulu atau pengertian konsep mengenai ilmu pengetahuan yang akan dipelajari.
Pada waktu yang lampau orang yang masih awam dalam ilmu antropologi mempunyai pandangan yang keliru mengenai isi dan materi yang dipelajari dalam studi antroplogi. Anggapan itu tidak salah karena sejarah perkembangan ilmu antropologi dibagi beberapa tahap. Tahap pertama, antropologi muncul ketika orang pribumi di Asia, Afrika dan Amerika didatangi oleh orang Eropa. Orang Eropa tertarik kepada orang pribumi karena kebudayaan orang Eropa sangat berbeda dengan kebudayaan orang pribumi. Tahap kedua, antropopologi telah berkembang dengan tujuan utama untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah dan evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Tahap ketiga, pada fase perkembangan ketiga ini, antroplogi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuannya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks. Tahap keempat, antropologi mengalami masa perkembangan yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Pada masa perkembangan ini, antropologi mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan akademis dan tujuan praktis. Tujuan akademis dari ilmu ini adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat serta kebudayaan, sedang tujuan praktis dari ilmu antropologi adalah mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.
Dari tahap-tahap perkembangan ilmu antropologi tampak bahwa sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain ilmu pengetahuan antroplogi pun terus mengalami perkembangan. Pada tahap awal sejarah perkembangannya, antropologi hanya bersifat deskripsi; kemudian dalam perkembangannya bahasan/ulasan antropologi disertai penjelasan atas dasar analisis dari interaksi antara manusia dengan kebudayaannya. Di samping itu, antropologi mempunyai perhatian utama adanya perbedaan dan persamaan (keanekawarnaan) berbagai manusia (ras) dan budaya di muka bumi.

B.2. Ruang lingkup dan Ilmu Penunjang Antropologi
Ruang lingkup pelajaran antropologi meliputi semua manusia dan gejala kebudayaan, termasuk proses yang mengakibatkan timbulnya fenomena dan berbagai bentuk persamaan dan perbedaan (keanekawarnaan). Berhubung lingkup pelajaran antropologi meliputi fenomena biologis (manusia) dan sosial, maka ilmu-ilmu penunjang antropologi meliputi ilmu-ilmu pengetahuan alam dan kelompok ilmu pengetahuan sosial. Koentjaraningrat (1990: 31) mencantumkan 13
ilmu pengetahuan yang pokok, terdiri dari 5 ilmu pengetahuan alam, 1 ilmu pengetahuan gabungan (sintesa), 7 ilmu sosial. Ketigabelas ilmu penunjang antropologi adalah ilmu geologi, paleontologi, anatomi, kesehatan masyarakat, psikiatri (kesemuanya ilmu pengetahuan alam), geografi (ilmu sintesa), arkeologi, sejarah, ekonomi, hukum adat, administrasi, dan ilmu politik (kesemuanya ilmu pengetahuan sosial).

B. 3. Objek Studi dan Pengamatan Antropologi
Objek studi antropologi dapat dipilah menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sasaran yang menjadi perhatian dalam penyelidikan. Mengingat lingkup pelajaran antropologi manusia dan budaya, maka sasaran penyelidikan sebagai objek material sangat luas. Sasaran penyelidikan yang banyak tersebut pada umumnya juga menjadi sasaran penyelidikan ilmu pengetahuan sosial lainnya; maka objek formallah yang membedakan ciri ilmu pengetahuan antropologi dengan yang lain. Yang dimaksud objek formal adalah cara pendekatan dalam penyelidikan terhadap objek yang sedang menjadi pusat perhatiannya.
Ada tiga cara pendekatan dalam ilmu antropologi, yaitu pertama, pengumpulan fakta. Dalam pengumpulan fakta di sini terdiri dari berbagai metode observasi, mencatat, mengolah dan melukiskan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat hidup. Sedangkan metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu ini adalah penelitian di lapangan (utama), dan penelitian perpustakaan. Kedua, penentuan ciri-ciri umum dan sistem. Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Adapun ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan berupa fakta-fakta yang berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, dalam hal mencari ciri-ciri umum di antara aneka warna fakta masyarakat itu harus mempergunakan berbagai metode membandingkan atau metode komparatif. Adapun metode komparatif itu biasanya dimulai dengan metode klasifikasi. Ketiga, verifikasi. Dalam kaitan ini, ilmu antropologi menggunakan metode verifikasi yang bersifat kualitatif. Dengan mempergunakan metode kualitatif, ilmu ini mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam kenyataan beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara mengkhusus dan mendalam.

B. 4. Beberapa Pengertian Penting dalam Antropologi
B.4. a. Holististik
Sebuah pendekatan dalam antropologi yang melihat keadaan-keadaan dan individu-individu secara utuh. Jadi, pokok kajiannya, baik sebuah organisasi atau individu, tidak akan diredusir (disederhanakan) kepada variabel yang telah ditata atau sebuah hipotesa yang telah direncanakan sebelumnya, tetapi akan dilihat sebagai bagian dari suatu yang utuh.

B.4.b. Kualitatif
Menurut Bogdan dan Tylor (1993: 30), metode kualitatif menunjuk kepada prosedur-prosedur riset yang menghasilkan data kualitatif, yaitu ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang terobservasi. Pendekatan-pendekatan ini mengarah kepada keadaan-keadaan dan individu-individu secara holistik (utuh). Jadi, pokok kajiannya, baik sebuah organisasi atau individu, tidak akan diredusir (disederhanakan) kepada variabel yang telah ditata atau sebuah hipotesa yang telah direncanakan sebelumnya, akan tetapi akan dilihat sebagai bagian dari suatu yang utuh.
Metode kualitatif memungkinkan kita memahami masyarakat secara personal dan memandang mereka sebagaimana mereka sendiri mengungkapkan pandangan dunianya. Kita menangkap pengalaman-pengalaman mereka dalam perjuangan mereka seharihari di dalam masyarakat mereka. Kita mengkaji tentang kelompok dan pengalaman-pengalaman yang sama sekali belum kita ketahui. Akhirnya, metode kualitatif memungkinkan kita membuat dan menyusun konsep-konsep yang hakiki, dan ini tidak ditemukan dalam metode lainnya (metode kuantitatif). Konsep-konsep seperti indah, menderita, keyakinan, frustasi, harapan, cinta dapat dikaji karena memang ada definisinya dan juga dialami oleh masyarakat secara real dalam kehidupan mereka.

B.4.c. Studi Kasus
Dalam penelitian antropologis, kita sering menjumpai kata-kata studi kasus. Menurut Black dan Champion (1976) studi kasus merupakan penelitian terhadap kesatuan sosial yang dipilih sebagai bahan kajian terhadap kesatuan yang lebih luas, tetapi hubungan antara kesatuan itu tidak dapat diperkirakan secara pasti. Artinya, bahwa hasil penelitian ini belum dapat dijadikan patokan untuk menarik kesimpulan umum (yang lebih luas) (Wibowo, 1994: 28-29).
Sebagai suatu penelitian sosial, kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian tadi tentu saja terbatas pada kesatuan yang diteliti. Pada lingkup yang lebih luas, kesimpulan yang dihasilkannya hanya berlaku sebagai proposisi hipotesis. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan memiliki arti penting dan berguna dalam tujuan studi. Menurut Marzali (1980) studi kasus bukanlah suatu teknik penelitian, tetapi suatu pendekatan, suatu cara agar dapat diperoleh suatu sifat yang utuh (unitary character) dari objek yang dikaji.

B. 4.d. Observasi Partisipasi
Ungkapan Observasi partisipasi tidak memperoleh batasan yang jelas dalam ilmu sosial. Di sini, observasi partisipasi dipakai untuk menunjuk kepada penelitian yang dicirikan adanya interaksi sosial yang intensif antara sang peneliti dengan masyarakat yang diteliti di dalam sebuah miliu masyarakat yang diteliti. Selama periode tadi, data yang diperoleh dikumpulkan secara sistematis dan hati-hati.
Sang peneliti menceburkan diri dalam kehidupan masyarakat dan situasi di mana mereka mengadakan penelitian. Para peneliti berbicara dengan bahasa mereka, bergurau, menyatu dan sama-sama terlibat dalam pengalaman yang sama. Hubungan yang demikian lama memungkinkan para peneliti untuk melihat adanya dinamika-dinamika dalam bentuk konflik dan perubahan sehingga memandang definisi-definsi tentang organisasi-organisasi, hubungan-hubungan, kelompok dan invidu ada dalam sebuah proses. Mereka memperoleh hal-hal yang menguntungkan secara khas jika dibanding dengan para pemakai metodologi lainnya.

C. KONSEP KEBUDAYAAN
C.1. Batasan Kebudayaan
Imu antropologi yang mempunyai perhatian terhadap cara hidup manusia dengan berbagai macam sistem tindakan, maka dalam memberi batasan tentang konsep kebudayaan1 atau culture, ilmu ini amat berbeda dengan ilmu yang lain. Juga apabila dibandingkan dengan arti yang biasanya diebrikan kepada konsep itu dalam sehari-hari, yaitu arti yang terbatas kepada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan dan filsafat, definisi ilmu antrologi jauh lbih luas sifat dan ruang lingkupnya. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koetjaraningrat, 1990: 180).
Kenyataannya, definisi yang menganggap bahwa “kebudayaan” dan “tindakan kebudayaan” itu adalah gejala yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar (learned behavior), juga diajukan oleh beberapa ahli antropologi terkenal seperti C. Wissler, C. Kluckhon, A. Davis, atau Hoebel.

C.2. Unsur-unsur Kebudayaan
Para sarjana antropologi yang biasa menanggapi suatu kebudayaan sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, pada waktu analisa akan membagi keseluruhan itu kedalam unsur-unsur besar yang disebut unsur-unsur kebudayaan universal atau cultural universal. 2 Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap kebudayaan dari suatu bangsa atau masyarakat terbagi lagi menjadi sejumlah unsur, baik unsur besar maupun unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan. Sejumlah unsur tadi yang disebut sebagai unsur-unsur pokok kebudayaan, atau dapat disebut kebudayaan semesta. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan universal adalah bahwa unsur-unsur kebudayaan itu dapat dijumpai pada setiap kebudayaan dimanapun juga. Ada tujuh unsur yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia. Ketujuh unsur yang dapat kita sebut sebagai isi pokok dari tiap-tiap kebudayaan di dunia itu adalah:
1. Bahasa
2. Sistem pengetahuan
3. Organisasi sosial
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
5. Sistem mata pencaharian hidup
6. Sistem Religi
7. Kesenian

Bagan Pemerincian Kebudayaan



Tiap-tiap unsur kebudayaan universal sudah tentu saja juga menjelma dalam tiga wujud kebudayaan terurai, yaitu wujudnya yang berupa sistem budaya, yang berupa sistem sosial dan yang berupa unsur-unsur kebudayaan fisik. Dengan demikian, sistem ekonomi misalnya, mempunyai wujud sebagai konsep-konsep, rencana-rencana, kebijaksanaan, adat-istiadat yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi mempunyai juga wujudnya yang berupa tindakan-tindakan dan interaksi berpola antara produsen, tengkulak, pedagang, ahli transport. pengecer dengan konsumen, serta kecuali itu dalam sistem ekonomi terdapat juga unsur-unsurnya yang berupa peralatan, komoditi, dan benda-benda ekonomi.
Jadi, unsur-unsur pokok kebudayaan itu meliputi wacana yang luas sehingga untuk keperluan analisis perlu ada sistematika yang berbentuk hirarki.

C. 3. Sistem Kebudayaan
Dari bagian di atas telah disebutkan bahwa unsur-unsur kebudayaan itu mempunyai wacana yang luas dan ada sistematika yang berbentuk hirarki. Hal inilah yang akhirnya membentuk sebuah sistem kebudayaan. Dalam Ilmu antropologi, tiap unsur kebudayaan universal dapat diperinsi ke dalam unsur-unsurnya yang lebih kecil sampau beberapa kali. Dengan mengikuti metode pemerincian dari seorang ahli antropologi R. Linton (Koentjaraningrat, 1990: 205), maka pemerincian itu kita lakukan sampai empat kali.3 Karena serupa dengan kebudayaan dalam keseluruhan (kesatuan), tiap unsur kebudayaan universal itu mempunyai tiga wujud, yaitu wujud sistem budaya, wujud sistem sosial, dan wujud kebudayaan fisik, maka pemerincian dari tujuh unsur tadi masing-masing harus juga dilakukan mengenai ketiga wujud tadi.
Wujud sistem budaya dari suatu unsur kebudayaan universal berupa adat, dan pada tahap pertamanya adat dapat diperinci lagi ke dalam beberapa kompleks budaya4 , tiap kompleks sosial, dan pada tahap kedua, tiap kompleks sosial dapat diperinci lebih khusus ke dalam berbagai pola sosial. Pada tahap keempat, tiap pola sosialdapat diperinci lebih khusus ke dalam berbagai tindakan.
Ketujuh unsur kebudayaan universal itu masing-masing tentu saja mempunyai wujud fisik, walaupun tidak ada satu wujud fisik untuk keseluruhan dari satu unsur kebudayaan universal. Itulah sebabnya kebudayaan fisik tidak perlu diperinci menurut keempat tahap pemerincian seperti dilakukan pada sistem budaya dan sistem sosial. Namunsemua unsur kebudayaan fisik sudah tentu secara khusus terdiri dari benda-benda kebudayaan (lebih jelasnya lihat bagan di bawah ini).

Bagan Pemerincian Unsur-unsur Kebudayaan Universal

Misalnya, unsur kebudayaan universal sistem mata pencaharian hidup dapat diperinci ke dalam beberapa sub-unsur seperti perburuan, perladamgan, pertanian, peternakan, perdagangan, perkebunan, industri, kerajinan, industri jasa, industri pertambangan dan industri manufaktur. Tiap bagian tadi mempunyai wujudnya sebagai sistem budaya yang akan kita sebut adatnya, wujud sebagai sistem sosialnya yang akan kita sebut aktivitas sosialnya; dan wujud fisiknya yang berupa berbagai peralatan yang tentunya merupakan benda-benda kebudayaan. Hal serupa dapat dilakukan terhadap unsur-unsur kebudayaan universal lainnya.

C. 4. Perubahan Kebudayaan
Pada dasarnya perubahan kebudayaan atau culture change selalu dapat terjadi, meskipun masa perubahan itu memakan waktu beribu tahun lamanya. Sumber penyebab perubahan dapat berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dapat pula berasal dari luar masyaraakt yang bersangkutan. Apabila jangka waktu proses perubahan tersebut memakan waktu yang lama, maka proses perubahan itu diisebut evolusi atau evolusi kebudayaan. Adapun proses perubahan relatif cepat biasanya disebabkan ditemukannya atau dikenalkannya teknologi baru. Di samping itu, proses perubahan kebudayaan yang relatif cepat juga dapat disebabkan karena kontak dengan masyarakat luar. Terlebih dengan adanya teknologi informasi yang semakin canggih dapat diharapkan proses perubahan kebudayaan akan semakin cepat. Ada empat hal yang berpengaruh terhadap proses perubahan kebudayaan, yaitu discovery, invention, evolusi dan difui.

C.4.a Discovery
Suatu discovey adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan baru, baik berupa suatu alat yang baru, ide baru, yang diciptakan oleh seorang individu atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Discovery menjadi incention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu. Proses perubahan ini sering kali memerlukan seorang individu, yaitu si penciptanya saja, melainkan suatu rangkaian yang terdiri dari beberapa orang pencipta.

C. 4.b. Invention
Invention atau penemuan adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru. Dengan demikian, inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi.

C. 4. c. Evolusi
Suatu evolusi dalam kebudayaan adalah proses perubahan setahap demi setahap yang relatif makan waktu dari barang yang pada awalnya diciptakan manusia (invention). Pada dasarnya evolusi tersebut dimaksudkan untuk menjadikan lebih baik, lebih canggih, dan lebih nyaman. Sepeda, mobil, pesawat terbang, rumah, bentuk dan kondisinya sangat jauh berbeda ketika pertama kali diciptakan. Perubahan itu tidak berlangsung cepat, melainkan tahap demi tahap. Bagaimana pun juga evolusi membawa dampak berupa perubahan-perubahan kebudayaan.

C. 4. d. Difusi
Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut dengan difusi atau dalam bahasa Inggrisnya disebut diffusion. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan tadi dapat saja terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa dari satu tempat ke tempat lainnya, tetapi karena ada individu-individu tertentu yang membawa unsur kebudayaan tersebut, seperti pedagang, saudagar, pelaut dan sebagainya. Selain itu, penyebaran ini dapat terjadi karena adanya pertemuan-pertemuan antara individu dalam suatu kelompok dengan individu kelompok tetangga.

E. Tema Penelitian Antropologi Kebudayaan
Untuk keperluan penelitian dalam studi antropologi budaya, tujuh unsur kebudayaan universal dapat dijadikan acuan untuk orientasi dalam memilih tema penelitian. Selanjutnya, untuk menentukan topik-topiknya dapat dimulai dari memilih salah satu unsur pokok sebagai tema penelitian, kemudian turun hingga culture traits bahkan dapat juga hingga ke item. Dalam ruang lingkup penelitian antropologi kebudayaansudah tentu harus mengikuti kaidah-kaidah antropologi.

Daftar Pustaka
Bogdan, Robert dan Steven J. Taylor
1993 Kualitatif, Dasar-dasar Penelitian. Surabaya: Usaha Nasional.
Koentjaraningrat
1990 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Marzali
1980 “Metode Penelitian Kasus”, Berita Antropologi. 11 (37).
Wibowo, Agus Budi
1994 “Perubahan Aspek-aspke Perkawinan Pada Masyarakat Pedesaan Studi
Kasus di Dusun Mojohuro, Desa Sriharjo, Kec. Imogiri Kab. Bantul
DIY”, Tesis Pascasarjana UGM.
http://3.bp.blogspot.com/_biDvdDPtZx8/SauGfus3E9I/AAAAAAAAAGo/PsgBiBng_Ug/s200/bgn1.jpghttp://3.bp.blogspot.com/_biDvdDPtZx8/SauGA22W-mI/AAAAAAAAAGg/1T2-1JtVsok/s200/bgn.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar